Minggu, 22 Mei 2016

Wonderful Indonesia Sydney dan Minimya Sosialisasi Promosi


#SELAMAT MALAM PARA KAWAN#
(menyimak info sekitar Promosi Parawisata Indonesia
dengan brand image Wonderful indonesia dalam minimnya
sosialisasi)
____________________________________________________________














____________________-

Kata Pengantar
___________________

"Tentu bukan hal yang salah jika di negara mana-pun Kementerian
Parawisata Indonesia mengadakan promosi dihadiri oleh warga
negara yang ada atau tinggal di negara tersebut".

Tapi justru aneh...!

Jika warga negara yang ada di negara tersebut tidak hadir, tidak
tertarik. Iyakan...? Seperti promosi parawisata yang dilakukan
di Sydney Australia, yang banyak hadir itu orang Indonesia,
padahal tujuan utama promosi warga negara Australia.

Bagimana itu...?

- Masihkah dapat dikatakan efektif cara promosi ini...?
- Bagaimana caranya agar promosi wonderful Indonesia ini
  lebih efektif...?

Para kawan sekalian...!

Berikut info berita Wonderful Indonesia di Sydney.

Selamat menyimak...!

___________________________________________________________

Sekilas info Wonderful Indonesia di Sydney - Australia
____________________________________________________________













Wonderful Indonesia Sydney: Dari Tompi, Tasia dan
Gracia Hingga Kuliner
L.Sastra Wijaya

Ribuan warga Indonesia dan lainnya memadati Tumbalong Park
di Darling Harbour Sydney selama dua hari Sabtu dan Minggu
(30/4-1/5) menghadiri Festival Wonderful Indonesia.

Selain penyanyi Tompi, juga tampail pemenang MKR 2016 Tasia
dan Gracia. Namun ada pengunjung yang kecewa dengan
makanan basi.

"Acara yang bernama Wonderful Indonesia Festival dan Travel
Fair kemarin sangat ramai, pengunjung banyak yang datang
silih berganti, tapi lapangan itu penuh." kata Don Kardono,
staf ahli Menteri Pariwisata Indonesia kepada wartawan ABC
Australia Plus Indonesia, L. Sastra Wijaya.










"Kehadiran pemenang  My Kitchen Rules 2016, Tasia dan Gracia
Seger membuat heboh, yang minta foto bersama antreannya panjang,
ratusan orang" tambah Don Kardono lagi.

"Begitupun hadirnya penyanyi Tompi membuat festival makin
atraktif. Lagu-lagu hitsnya masih bisa dinyanyikan bersama
oleh banyak pengunjung."  kata Don lagi.

Menteri Pariwisata Indonesia Arief Yahya juga menghadiri
acara tersebut dan menurut Don Kardono, Menpar menekankan
beberapa hal yang ingin dipromosikan kepada warga Austraia
khususnya di Sydney dan New South Wales.

"Festival ini memiliki tiga makna mempromosikan bebas visa
kunjungan ke Indonesia selama 30 hari, melalui pintu mana saja."

"Juga memperkenalkan karya budaya Indonesia, seperti kuliner
dan kesenian, seperti Tarian Bali, Dayak, Jawa, Sulawesi Utara
dan Angklung.  Kulinernya stand yang menawarkan sate ayam,
sate kambing, sop buntut, nasi udik, nasi padang, nasi campur."

"Dan juga mempromosikan branding Wonderful Indonesia, dengan
10 daerah kunjungan baru di Indonesia selain Bali." kata Arief Yahya.







Bagaimana dengan reaksi dari beberapa pengunjung yang
mendatangi festival tersebut?

Salut Muhidin dosen asal Indonesia yang sekarang mengajar di
Macquarie University di Sydney mengatakan bahwa festival
berlangsung cukup ramai.

"Kalau saya lihat peserta yang ikut sepertinya terdiri dari
dua program. Yang pertama promosi urusan untuk travel ke
Infonesia dan juga promosi makanan Indonesia.








Yang cukup nenarik adalah terlihat stand makanan masih lebih
banyak dikunjungi oleh peserta yang memang sebagian besar
warga Diaspora Indonesia." kata Salut.

"Sementara stand yang berupa promosi lebih diminati oleh para
bule atau orang yg memang  mencari idea untuk bisnis atau
liburan ke Indonesia. Hanya saja frekuensinya tidak sebesar
bagian makanan tadi." kata Salut lagi.








Dewi Booth seorang warga asal Indonesia lainnya mengatakan bahwa
adanya bantal-bantal besar (bean bags) yang diletakkan di depan
panggung sangat membantu pengunjung yang hadir.

"Karena bisa menonton pertunjukkan sambil selonjoran." katanya
kepada Australia Plus Indonesia lewat sosial media.

Sementara itu, Indrastuti yang sudah 10 tahun lebih tinggal di
Sydney dan hadir bersama suaminya Paolo Zanchetta dan beberapa
teman lain menyambut baik penyelenggaraan festival tersebut.

Namun Indrastuti mengaku kecewa dengan mutu makanan yang dijual.

"Saya masih melihat bahwa para penjual makanan belum memenuhi
standar yang baik dalam menyimpan makanan baik yang ditampilkan
maupun bahan-bahan  mentah terutama daging. Sate yang saya
makan kebetulan tidak segar. Saya rasakan dari dagingnya." katanya.

"Mungkin perlu lebih di promosikan acara ini kepada masyarakat
local non Indonesia, karena hanya beberapa orang saja orang
'bule' yang hadir." kata Indrastuti lagi.

Seorang pengunjung lainnya, Rizka Savitri juga memberikan
pandangan mengenai stand masakan yang ditampilkan di
Tumbalong Park di kawasan Darling Harbour tersebut.

"Ada sebagian kecil stand penjual makanan dan minuman yang
menuliskan menu dalam bahasa Indonesia saja sehingga agak
menyulitkan orang asing untuk memesan makanan/minuman khas
Indonesia yang dijual."

"Semoga untuk di acara yang akan datang, semua stand penjual
makanan dan minuman bisa mempersiapkan lebih baik lagi untuk
kelengkapan menu dalam bahasa Indonesia dan Inggris." kata Rizka.

Dari sisi penampillan para penghibur Rizka Savitri mengatakan
acara berlangsung menarik.

"Penampilan favorit versi saya dari acara selama dua hari adalah
tari Ratoh Duek dari Aceh yang memperlihatkan harmoni dan
kekompakan gerakan para penarinya, penampilan dari Justice Crew
dan juga Tompi. Pengunjung lainnya juga terlihat bertepuk tangan
riuh saat pertunjukan berlangsung." kata Rizka.

Astrid Vasile, seorang warga Indonesia yang tinggal di Perth
(Australia Barat) secara khusus datang ke Sydney untuk menyaksikan
Festival tersebut.

Astrid yang merupakan seorang pengusaha dan giat terlibat dalam
Jaringan Diaspora Indonesia di Australia mengatakan pada umumnya
harus dihargai, namun dia juga memberikan beberapa kritiknya.

"Saya sengaja datang dari Perth untuk melihat antusiasme orang-orang
Australia pada Indonesia. Namun saya agak terkejut bahwa yang
datang mungkin 90 persen orang Indonesia, dan hanya 10 persen
'bule' yang mungkin memiliki hubungan karena menikah dengan
orang Indonesia." kata Astrid.









Menurut Astrid, dalam acara festival seperti ini, seharusnya
promosi budaya dan pariwisata itu sebaiknya untuk orang di
luar negeri agar tertarik datang ke Indonesia.

"Dari beberapa komentar yang saya dengar dari pengunjung ada
yang mengatakan ada pembicara yang tidak mencerminkan Indonesia
terlalu lama di panggung, juga ada demo masak di panggung juga
tidak ada hubungannya dengan Indonesia. " kata Astrid lagi.

Menurut dugaannya, Astrid mengatakan bahwa promosi yang dilakukan
sebelum acara berlangsung kurang banyak sehingga yang datang
sebagian besar adalah orang Indonesia.

"Usaha yang sudah dilakukan pasti sudah maksimal, namun pesan
bahwa Indonesia adalah daerah wisata, banyak pelabuhan, banyak
atraksi untuk wisatawan, banyak budaya, saya kira tidak sampai
untuk menarik banyak kedatangan warga Australia." kata Astrid lagi.

_______________

Penutup
_______________

Demikian infonya para kawan sekalian...!

Kiranya berita ini cukup jelas, menggambarkan hambatan-hambatan
promosi Wonderful Indonesia. Dan kiranya pula, dapat menjadi
masukan bagi Kementerian Parawisata Indonesia untuk dapat
melakukan hal-hal yang lebih efektif pada masa mendatang.

"Majulah Parawisata Indonesia bersama Wonderful Indonesia".

Selamat malam...!









___________________________________________________________________
Cat :
Wonderful Indonesia Festival and Travel Fair Sydney 2016 720 HD
https://www.youtube.com/watch?v=UnANeMqWJ84














Tidak ada komentar:

Posting Komentar